-
Notifications
You must be signed in to change notification settings - Fork 0
Expand file tree
/
Copy pathindex.html
More file actions
904 lines (863 loc) · 53.3 KB
/
index.html
File metadata and controls
904 lines (863 loc) · 53.3 KB
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
101
102
103
104
105
106
107
108
109
110
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
128
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
142
143
144
145
146
147
148
149
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
162
163
164
165
166
167
168
169
170
171
172
173
174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
189
190
191
192
193
194
195
196
197
198
199
200
201
202
203
204
205
206
207
208
209
210
211
212
213
214
215
216
217
218
219
220
221
222
223
224
225
226
227
228
229
230
231
232
233
234
235
236
237
238
239
240
241
242
243
244
245
246
247
248
249
250
251
252
253
254
255
256
257
258
259
260
261
262
263
264
265
266
267
268
269
270
271
272
273
274
275
276
277
278
279
280
281
282
283
284
285
286
287
288
289
290
291
292
293
294
295
296
297
298
299
300
301
302
303
304
305
306
307
308
309
310
311
312
313
314
315
316
317
318
319
320
321
322
323
324
325
326
327
328
329
330
331
332
333
334
335
336
337
338
339
340
341
342
343
344
345
346
347
348
349
350
351
352
353
354
355
356
357
358
359
360
361
362
363
364
365
366
367
368
369
370
371
372
373
374
375
376
377
378
379
380
381
382
383
384
385
386
387
388
389
390
391
392
393
394
395
396
397
398
399
400
401
402
403
404
405
406
407
408
409
410
411
412
413
414
415
416
417
418
419
420
421
422
423
424
425
426
427
428
429
430
431
432
433
434
435
436
437
438
439
440
441
442
443
444
445
446
447
448
449
450
451
452
453
454
455
456
457
458
459
460
461
462
463
464
465
466
467
468
469
470
471
472
473
474
475
476
477
478
479
480
481
482
483
484
485
486
487
488
489
490
491
492
493
494
495
496
497
498
499
500
501
502
503
504
505
506
507
508
509
510
511
512
513
514
515
516
517
518
519
520
521
522
523
524
525
526
527
528
529
530
531
532
533
534
535
536
537
538
539
540
541
542
543
544
545
546
547
548
549
550
551
552
553
554
555
556
557
558
559
560
561
562
563
564
565
566
567
568
569
570
571
572
573
574
575
576
577
578
579
580
581
582
583
584
585
586
587
588
589
590
591
592
593
594
595
596
597
598
599
600
601
602
603
604
605
606
607
608
609
610
611
612
613
614
615
616
617
618
619
620
621
622
623
624
625
626
627
628
629
630
631
632
633
634
635
636
637
638
639
640
641
642
643
644
645
646
647
648
649
650
651
652
653
654
655
656
657
658
659
660
661
662
663
664
665
666
667
668
669
670
671
672
673
674
675
676
677
678
679
680
681
682
683
684
685
686
687
688
689
690
691
692
693
694
695
696
697
698
699
700
701
702
703
704
705
706
707
708
709
710
711
712
713
714
715
716
717
718
719
720
721
722
723
724
725
726
727
728
729
730
731
732
733
734
735
736
737
738
739
740
741
742
743
744
745
746
747
748
749
750
751
752
753
754
755
756
757
758
759
760
761
762
763
764
765
766
767
768
769
770
771
772
773
774
775
776
777
778
779
780
781
782
783
784
785
786
787
788
789
790
791
792
793
794
795
796
797
798
799
800
801
802
803
804
805
806
807
808
809
810
811
812
813
814
815
816
817
818
819
820
821
822
823
824
825
826
827
828
829
830
831
832
833
834
835
836
837
838
839
840
841
842
843
844
845
846
847
848
849
850
851
852
853
854
855
856
857
858
859
860
861
862
863
864
865
866
867
868
869
870
871
872
873
874
875
876
877
878
879
880
881
882
883
884
885
886
887
888
889
890
891
892
893
894
895
896
897
898
899
900
901
902
903
904
<!DOCTYPE html>
<html lang="en">
<head>
<meta charset="UTF-8">
<meta http-equiv="X-UA-Compatible" content="IE=edge">
<meta name="viewport" content="width=device-width, initial-scale=1.0">
<link rel="preconnect" href="https://fonts.googleapis.com">
<link rel="preconnect" href="https://fonts.gstatic.com" crossorigin>
<link href="https://fonts.googleapis.com/css2?family=Poppins:ital,wght@1,500&display=swap" rel="stylesheet">
<link rel="icon" href="image/logo kalimantan barat.png" type="image/gif">
<link rel="stylesheet" href="style.css">
<title>Kalimantan Barat</title>
</head>
<body>
<header>
<nav id="navbar">
<ul>
<li><a href="#home">HOME</a></li>
<li><a href="#content">CONTENT</a></li>
<li><a href="#daftarisi">DAFTAR ISI</a></li>
<li><a href="#about">ABOUT</a></li>
</ul>
</nav>
<img src="image/gambar header.svg" alt="" id="home" class="home">
<div class="sumber">
<h1>KALIMANTAN BARAT</h1>
<h3>Sumber Artikel By : <a
href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat">https://id.wikipedia.org</a></h3>
</div>
</header>
<hr>
<main>
<!-- daftarisi -->
<div class="daftarisi" id="daftarisi">
<h2>Daftar Isi</h2>
<ol>
<li> <a href="#sejarah"> 1. Sejarah </a> </li>
<li> <a href="#suku"> 2. Suku </a></li>
<li> <a href="#bahasa"> 3. Bahasa </a>
<ul style="margin-left: -15px; margin-top: 10px;">
<li><a href="#bakatik"> Bakatik </a></li>
<li><a href="#bukat"> Bukat </a></li>
<li><a href="#galik"> Galik </a></li>
<li><a href="#kayaan"> Kayaan </a></li>
<li><a href="#punan"> Punan </a></li>
<li><a href="#ribun"> Ribun </a></li>
<li><a href="#taman"> Taman </a></li>
<li><a href="#uud"> Uud Daum </a></li>
</ul>
</li>
<li> <a href="#budaya"> 4. Budaya </a>
<ul style="margin-left: -15px; margin-top: 10px;">
<li> <a href="#tarian"> Tarian Tradisional </a></li>
<li> <a href="#musik"> Alat Musik Tradisional </a></li>
<li> <a href="#senjata"> Senjata Tradisional </a></li>
<li> <a href="#sastra"> Sastra Lisan </a></li>
<li> <a href="#tenun"> Tenun </a></li>
<li> <a href="#anyam"> Kerajinan Anyam Manik </a></li>
<li> <a href="#rotan"> Kerajinan Anyam Rotan atau bambu </a></li>
<li> <a href="#tangan"> Kerajinan Tangan </a></li>
<li> <a href="#kue"> Kue Tradisional </a></li>
<li> <a href="#masakan"> Masakan dan makanan Tradisional </a></li>
</ul>
</li>
<li> <a href="#wisataalam"> 5. Wisata Alam </a>
<ul style="margin-left: -15px; margin-top: 10px;">
<li> <a href="#tanjungbadau">Tanjung Badau</a></li>
<li> <a href="#riammadi">Riam Madi</a></li>
<li> <a href="#pasirpanjang"> Pasir Panjang</a></li>
<li> <a href="#lemukutan"> Lemukutan</a></li>
<li> <a href="#temajuksambas"> Temajuk Sambas </a></li>
<li> <a href="#danausentarum"> Danau Sentarum</a></li>
<li> <a href="#bukitkelam"> Bukit Kelam</a></li>
<li> <a href="#hutanmangrove"> Hutam Mangrove</a></li>
<li> <a href="#tamanalun"> Taman Alun-alun Pontianak</a></li>
<li> <a href="#riambedawan"> Riam Bedawan</a></li>
</ul>
</li>
<li> <a href="#social"> 6. Social Media </a> </li>
</ol>
</div>
<!-- end daftar isi -->
<!-- content -->
<article>
<div class="content" id="content">
<!-- sejarah -->
<div class="sejarah" id="sejarah">
<h1>SEJARAH</h1>
<img src="image/sejarah.jpg" class="image" alt="">
<p>Bakulapura atau Tanjungpura merupakan taklukan Kerajaan Singhasari. Wilayah kekuasaan Tanjungpura
membentang dari Tanjung Dato sampai Tanjung Sambar. Pulau Kalimantan kuno terbagi menjadi 3
wilayah
negara kerajaan induk: Borneo (Brunei), Sukadana (Tanjungpura) dan Banjarmasin (Bumi Kencana).
Tanjung Dato adalah perbatasan wilayah mandala Borneo (Brunei) dengan wilayah mandala Sukadana
(Tanjungpura), sedangkan Tanjung Sambar batas wilayah mandala Sukadana/Tanjungpura dengan
wilayah
mandala Banjarmasin (daerah Kotawaringin).Daerah aliran Sungai Jelai, di Kotawaringin di
bawah kekuasaan Banjarmasin, sedangkan sungai Kendawangan di bawah kekuasaan Sukadana.
Perbatasan di pedalaman, perhuluan daerah aliran sungai Pinoh (Lawai) termasuk dalam wilayah
Kerajaan Kotawaringin (bawahan Banjarmasin).
</p>
<p>
Daerah-daerah di Kalbar yang terkenal pada zaman dahulu diantaranya Tanjungpura dan Batang
Lawai.
Loue (Lawai) oleh Tomé Pires digambarkan daerah yang banyak intan, jarak dari Tanjompure empat
hari
pelayaran. Tanjungpura maupun Lawai masing-masing dipimpin seorang Patee (Patih). Patih-patih
ini
tunduk kepada Patee Unus, penguasa Demak.Kesultanan Demak juga telah berjasa membantu raja
Banjar Pangeran Samudera berperang melawan pamannya Pangeran Tumenggung penguasa Kerajaan Negara
Daha terakhir untuk memperebutkan hegemoni atas wilayah Kalimantan Selatan.
</p>
<p>
Menurut naskah Hikayat Banjar dan Kotawaringin, negeri Sambas, Sukadana dan negeri-negeri di
Batang
Lawai (nama kuno sungai Kapuas) pernah menjadi taklukan Kerajaan Banjar atau pernah mengirim
upeti
sejak zaman Hindu. Kerajaan Banjar menamakan kerajaan-kerajaan di Kalbar ini dengan sebutan
negeri-negeri di bawah angin. Kerajaan Banjar memiliki prajurit Dayak Biaju-Ot Danum dan Dayak
Dusun-Maanyan-Lawangan yang sering memenggal kapala musuh-musuhnya (ngayau). Pada masa
pemerintahan
Raja Maruhum Panambahan seorang Adipati Sambas/Panembahan Ratu Sambas telah menghantarkan upeti
berupa dua biji intan yang berukuran besar yang bernama Si Giwang dan Si Misim.
</p>
<p>
Pada tahun 1604 pertama kalinya Belanda berdagang dengan Sukadana.Tahun 1609, di Sambas pada
saat itu ada ketakutan yang sangat besar akan serangan bermusuhan oleh Brunei, sehingga penguasa
wilayah itu, Saboa Tangan Pangeran ay de Paty Sambas (Pangeran Adipati Sambas), membuat aliansi
dengan VOC-Belanda pada 1 Oktober 1609, dengan harapan menentangnya, untuk memperkuat terhadap
musuh-musuhnya. Sementara itu serangan itu tidak memiliki tempat; Walaupun, sultan Brunei telah
turun ke laut dengan 150 perahu, tetapi badai telah memaksanya untuk mundur.Tahun 1672, Sultan
Banjar mengesahkan Raja Sintang sebagai Sultan.
</p>
<p>
Sesuai perjanjian 20 Oktober 1756 VOC Belanda berjanji akan membantu Sultan Banjar Tamjidullah I
untuk menaklukan kembali daerah-daerah yang memisahkan diri diantaranya Sanggau, Sintang dan
Lawai
(Kabupaten Melawi), sedangkan daerah-daerah lainnya merupakan milik Kesultanan Banten, kecuali
Sambas. Menurut akta tanggal 26 Maret 1778 negeri Landak dan Sukadana (sebagian besar Kalbar)
diserahkan kepada VOC Belanda oleh Sultan Banten. Inilah wilayah yang mula-mula menjadi milik
VOC
Belanda selain daerah protektorat Sambas. Pada tahun itu pula Syarif Abdurrahman Alkadrie yang
dahulu telah dilantik di Banjarmasin sebagai Pangeran yaitu Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam
direstui oleh VOC Belanda sebagai Sultan Pontianak yang pertama dalam wilayah milik Belanda
tersebut.Pada tahun 1789 Sultan Pontianak dibantu Kongsi Lan Fang diperintahkan VOC Belanda
untuk menduduki negeri Mempawah dan kemudian menaklukan Sanggau.
</p>
<p>
Pada tanggal 4 Mei 1826 Sultan Adam dari Banjar menyerahkan Jelai, Sintang dan Lawai (Kabupaten
Melawi) kepada pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Tahun 1846 daerah koloni Belanda di pulau
Kalimantan memperoleh pemerintahan khusus sebagai Dependensi Borneo.Pantai barat Borneo terdiri
atas asisten residen Sambas dan asisten residen Pontianak. Divisi Sambas meliputi daerah dari
Tanjung Dato sampai muara sungai Doeri. Sedangkan divisi Pontianak yang berada di bawah asisten
residen Pontianak meliputi distrik Pontianak, Mempawah, Landak, Kubu, Simpang, Sukadana, Matan,
Tayan, Meliau, Sanggau, Sekadau, Sintang, Melawi, Sepapoe, Belitang, Silat, Salimbau, Piassa,
Jongkong, Boenoet, Malor, Taman, Ketan, dan Poenan Sebelumnya menurut Staatsblad van
Nederlandisch Indië tahun 1849 No. 40, ada 14 daerah (Sambas, Mampawa, Pontianak, Koeboe,
Simpang,
Soekadana, Matan, Landak, Tajan, Meliou, Sangouw, Sekadouw, Blitang, Sintang) di wilayah ini
termasuk dalam wester-afdeeling van Borneo berdasarkan Bêsluit van den Minister van Staat,
Gouverneur-Generaal van Nederlandsch-Indie, per tanggal 27 Agustus 1849, No. 8. Pada 1855,
negeri Sambas dimasukan ke dalam wilayah Hindia Belanda menjadi Karesidenan Sambas.
</p>
<p>
Menurut Hikayat Malaysia, Brunei, dan Singapore wilayah yang tidak bisa dikuasai dari kerajaan
Hindu
sampai kesultanan Islam di Kalimantan Barat adalah kebanyakan dari Kalimantan Barat seperti
Negeri
Sambas dan sekitarnya, dan menurut Negara Brunei Darussalam Hikayat Banjar adalah palsu dan
bukan
dibuat dari kesultanan Banjar sendiri melainkan dari tangan-tangan yang ingin merusak nama
Kalimantan Barat dan disebarluaskan keseluruh Indonesia sampai saat ini, karena menurut
penelitian
para ahli psikolog di dunia Negeri Sambas tidak pernah kalah dan takluk dengan Negara manapun.
</p>
<p>
Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal yang dimuat dalam
STB
1938 No. 352, antara lain mengatur dan menetapkan bahwa ibu kota wilayah administratif
Gouvernement
Borneo berkedudukan di Banjarmasin dibagi atas 2 Residentir, salah satu di antaranya adalah
Residentie Westerafdeeling Van Borneo dengan ibu kota Pontianak yang dipimpin oleh seorang
Residen.
</p>
<p>
Pada tanggal 1 Januari 1957 Kalimantan Barat resmi menjadi provinsi yang berdiri sendiri di
Pulau
Kalimantan, berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 1956 tanggal 7 Desember 1956. Undang-undang
tersebut juga menjadi dasar pembentukan dua provinsi lainnya di pulau terbesar di Nusantara itu.
Kedua provinsi itu adalah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.
</p>
</div>
<!-- end sejarah -->
<!-- suku -->
<div class="suku" id="suku">
<h1>SUKU</h1>
<img src="image/suku.jpg" class="image" alt="">
<p>
Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia 2010, suku yang dominan di Kalimantan Barat dari
4.385.356
jiwa, yaitu suku Dayak yakni 2.194.009 jiwa (50,03%). Suku Dayak mayoritas di daerah pedalaman
seperti Landak, Bengkayang, Sanggau, Sintang, Sekadau dan Melawi. Selanjutnya ada suku Melayu
sebanyak
814.550 jiwa (18,57%).[49] Suku Melayu mayoritas di kawasan pesisir, seperti Sambas, Kayong
Utara,
Ketapang, Mempawah dan Kota Pontianak.
</p>
<p>
Suku terbanyak ketiga di Kalimantan Barat yaitu suku Jawa sebanyak 427.33 jiwa (9,74%) yang
memiliki
basis pemukiman di daerah-daerah transmigrasi yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota, terutama
Kubu
Raya dan Sintang yang sekitar 30% penduduknya merupakan warga transmigran asal Jawa. Di urutan
keempat
yaitu etnis Tionghoa yakni 358.451 jiwa (8,17%) yang banyak terdapat di perkotaan seperti
Singkawang
dan
Pontianak. Di Kota Singkawang, 37% penduduknya adalah keturunan Tionghoa dan 32% Melayu,
sedangkan
di
Kota Pontianak 32% penduduknya suku Melayu dan 18% Tionghoa. Budaya dasar Kalimantan Barat
dibentuk
atas
tiga tungku utama, yaitu Dayak, Melayu dan Tionghoa.Kedatangan orang Tionghoa ke Kalimantan
Barat
diyakini terdapat tiga gelombang, yang terbesar saat penemuan emas di Monterado, Bengkayang.
Saat
itu,
Sultan Sambas dan Mempawah mendatangkan orang Tionghoa untuk menjadi tenaga penambang
disana.Walau
demikian saat ini terdapat banyak suku bangsa dari seluruh Indonesia yang mendiami Kalimantan
Barat,
dan
populasi suku Jawa sudah melebihi keturunan Tionghoa disebabkan banyaknya migrasi dari pulau
Jawa,
baik
melalui transmigrasi maupun masuknya tenaga kerja dari berbagai sektor.
</p>
<p>
Berikutnya di urutan kelima yaitu etnis Madura (6,27%) yang memiliki basis pemukiman di Mempawah
dan
Kubu Raya. Berbeda dengan suku Jawa, kedatangan suku Madura ke Kalimantan Barat karena migrasi
swakarsa
atau dengan biaya sendiri.Di urutan keenam yaitu Bugis (3,13%) yang juga banyak terdapat di
Mempawah. Setiap tahun di Mempawah diadakan upacara tradisi Robo'-Robo' untuk memperingati
kedatangan
Opu Daeng Manambon dari Kesultanan Luwu ke Kerajaan Mempawah.
</p>
</div>
<!-- end suku -->
<!-- bahasaa -->
<div class="bahasa" id="bahasa">
<h1>BAHASA</h1>
<p>
Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang secara umum dipakai oleh masyarakat di Kalimantan Barat.
Selain
itu bahasa penghubung, yaitu Bahasa Melayu menurut wilayah penyebarannya. Demikian juga terdapat
beragam
jenis Bahasa Dayak, Menurut penelitian Institut Dayakologi terdapat 188 dialek yang dituturkan
oleh
suku
Dayak dan Bahasa Tionghoa seperti Tiochiu dan Khek/Hakka. Dialek yang di maksudkan terhadap
bahasa
suku
Dayak ini adalah begitu banyaknya kemiripannya dengan bahasa Melayu, hanya kebanyakan berbeda di
ujung
kata seperti makan (Melayu), makatn (Kanayatn), makai (Iban) dan makot (Melahui).
</p>
<p>
Khusus untuk rumpun Uud Danum, bahasanya boleh dikatakan berdiri sendiri dan bukan merupakan
dialek
dari
kelompok Dayak lainnya. Dialeknya justru ada pada beberapa sub suku Dayak Uut Danum sendiri.
Seperti
pada bahasa sub suku Dohoi misalnya, untuk mengatakan makan saja terdiri dari minimal 16
kosakata,
mulai
dari yang paling halus sampai ke yang paling kasar. Misalnya saja ngolasut (sedang halus), kuman
(umum),
dekak (untuk yang lebih tua atau dihormati), ngonahuk (kasar), monirak (paling kasar) dan Macuh
(untuk
arwah orang mati).
</p>
<p>
Peta bahasa Kemendikbud menyebutkan ada 9 bahasa di Kalimantan Barat, diantaranya
Bakatik, Bukat, Galik,
Kayaan, Melayu, Punan, Ribun, Taman dan Uud Danum.
</p>
<ul>
<li id="bakatik">Bakatik</li>
<p>Bahasa Bakatik dituturkan oleh masyarakat terutama di wilayah Kabupaten Bengkayang, tersebar
di
wilayah Kecamatan Ledo, Sanggau Ledo, Teriak, dan Bengkayang. Sementara itu selain di
Kabupaten
Bengkayang, bahasa Bakatik juga dituturkan di Kota Pontianak, Kabupaten Sambas, Kabupaten
Landak,
dan Kabupaten Kubu Raya yang ada di sekitar Kecamatan Sungai Ambawang serta di Kecamatan
Simpang
Hulu, Kabupaten Ketapang. Bahasa Bakatik terbagi atas 4 (empat) dialek. Pertama dialek Moro
Betung
dengan daerah sebarannya di Kecamatan Menyuke, Kabupaten Landak. Kedua dialek Ambawang Satu
di
Kabupaten Kubu Raya. Ketiga Sahan di Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang. Keempat
dialek
Rodaya daerah sebarannya di Kecamatan Ledo dan Desa Bani Amas di Kabupaten Bengkayang.
</p>
<li id="bukat">Bukat</li>
<p>Bahasa Bukat dituturkan oleh masyarakat yang mendiami wilayah di sekitar hulu Sungai Kapuas,
terutama
di wilayah Kecamatan Putussibau, Kecamatan Putussibau Utara dan Desa Tanjung Jati, Kecamatan
Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu. Bahasa Bukat termasuk kelompok minoritas di
Kalimantan
Barat dan dapat dikatakan bahwa bahasa Bukat merupakan sebuah bahasa tersendiri di
Kalimantan
Barat.
</p>
<li id="galik">Galik</li>
<p>Bahasa Galik (Golik) dituturkan oleh masyarakat di Kampung Mandong, Kampung Tayan Hulu dan
Kampung
Engkahan, Kecamatan Sekayam; di Kampung Kasro Mego, Kecamatan Beduwai; dan Kampung Tanap,
Kecamatan
Kembayan, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Bahasa Galik (Golik) terdiri atas
empat
dialek.Pertama dialek Mandong yang dituturkan di Kampung Mandong, Penutur menamakan
bahasanya
dengan
bahasa Dayak Peruan. Kedua dialek Engkahan yang dituturkan di daerah Kecamatan Sekayam,
penuturnya
menamakan bahasa Dayak Karamai. Ketiga dialek Kasro Mego yang dituturkan di Desa Kasro Mego
di
Kecamatan Beduai, penuturnya menamakan bahasa Galik. Keempat dialek Tanap yang dituturkan di
Desa
Tanap, penuturnya menamakan bahasa Tanap.
</p>
<li id="kayaan">Kayaan</li>
<p>Bahasa Kayaan dituturkan di wilayah Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, di
wilayah
hulu Sungai Kapuas. Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri, isolek Kayaan merupakan
sebuah
bahasa tersendiri.jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di Kalimantan Barat.
</p>
<li id="punan">Punan</li>
<p>Bahasa Punan antara lain dituturkan oleh masyarakat di Desa Tanjunglokang, Kecamatan
Putussibau
Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu.
</p>
<li id="ribun">Ribun</li>
<p>Bahasa Ribun (Rihun) dituturkan oleh masyarakat di Desa Tanggung dan Desa Semirau, Kecamatan
Jangkang; di Desa Gunam, Kecamatan Parindu; di Desa Empodis dan Desa Upe, Kecamatan Bonti;
dan
di
Desa Semongan, Kecamatan Noyan. Daerah-daerah tersebut berada di Kabupaten Sanggau.
</p>
<li id="taman">Taman</li>
<p>Bahasa Taman dituturkan oleh masyarakat di wilayah hulu Sungai Kapuas, antara lain di Engko’
Tambe,
Kecamatan Putussibau Selatan; di Desa Pulau Manak, Kecamatan Embaloh Hulu; di Mensiau,
Kecamatan
Batang Lupar; di Nanga Tuwuk, Sungai Tempurau, Kecamatan Putussibau, Kabupaten Kapuas,
Provinsi
Kalimantan Barat. Wilayah tutur bahasa Taman dikelilingi oleh wilayah tutur bahasa Melayu.
Bahasa
Taman tersebar di wilayah Kabupaten Kapuas Hulu, yaitu di wilayah Kecamatan Putussibau,
Mandai,
dan
Batang Lupar. Bahasa Taman mempunyai tiga dialek. Pertama dialek Taman Kapuas,yang memiliki
daerah
sebaran di Ingko’ Tambe, Kecamatan Putussibau. Kedua dialek Taman Embaloh, yang memiliki
daerah
sebaran di Pulau Manak, Kecamatan Embaloh Hulu dan Mensiau di Kecamatan Batang Lupar. Ketiga
dialek
Kalis, yang memiliki daerah sebaran di Nanga Tuwuk, Sungai Tempurau, Kecamatan Putussibau.
</p>
<li id="uud">Uud Daum</li>
<p>Bahasa Uud Danum (Ot Danum) dituturkan oleh masyarakat di Desa Nanga Keremoi, Kecamatan
Ambalau,
Kabupaten Sintang, di daerah hulu Sungai Melawi, Provinsi Kalimantan Barat.
</p>
</ul>
</div>
<!-- end bahasa -->
<!-- Budaya -->
<div class="budaya" id="budaya">
<h1> BUDAYA</h1>
<h2 id="tarian">Tarian Tradisional</h2>
<p>Tari Monong/Manang/Baliatn, merupakan tari penyembuhan yang terdapat pada seluruh masyarakat
Dayak.
Tari
ini berfungsi sebagai penolak/penyembuh/penangkal penyakit agar si penderita dapat sembuh
kembali
penari
berlaku seperti dukun dengan jampi-jampi. Tarian ini hadir di saat sang dukun sedang dalam
keadaan
trance, dan tarian ini merupakan bagian dari upacara adat Bemanang/Balian.
</p>
<p>
Tari Pingan merupakan tarian tunggal pada masyarakat Dayak Mualang Kabupaten Sekadau di masa
lalunya
sebagai tarian upacara dan pada masa kini sebagai tari hiburan masyarakat atas
rezeki/tuah/makanan
yang
diberikan oleh Tuhan. Tari ini menggunakan Pingan sebagai media atraksi dan tari ini berangkat
dari
kebudayaan leluhur pada masa lalu yang berkaitan erat dengan ritualisme legitimasi kelulusan
beladiri
tradisional Dayak Mualang (Ibanik Group).
</p>
<p>
Tari Pedang / Ajat Pedang, merupakan tarian tunggal terdapat pada Dayak Mualang, tarian ini
menceritakan
persiapan membela diri bagi seorang pemuda yang akan turun melakukan ekspedisi Mengayau. penari
melakukan gerakan-gerakan menyerang dan menangkis menggunakan keahlian tradisionalnya. tarian
ini
masa
lalunya dimulai dengan ritual memuja pedang ( Nyabor bahasa Mualang) dan tarian ini diiringi
dengan
instrumen musik disebut Tebah Unop. tersebar di kampung Merbang dan sekitarnya kecamatan
Belitang
Hilir
dan belitang hulu kampung sebetung.
</p>
<p>
Tari Jonggan, merupakan tari pergaulan masyarakat Dayak Kanayatn di daerah Kubu Raya (
Ambawakng),
Mempawah ( Toho, Manyalitn), Landak ( Sahapm) yang masih dapat ditemukan dan dinikmati secara
visual,
tarian ini meceritakan suka cita dan kebahagiaan dalam pergaulan muda mudi Dayak. Dalam tarian
ini
para
tamu yang datang pada umumnya diajak untuk menari bersama.
</p>
<p>
Tari kondan merupakan tari pergaulan yang diiringi oleh pantun dan musik tradisional masyarakat
Dayak
Kabupaten Sanggau Kapuas, kadang kala kesenian kondan ini diiringi oleh gitar. kesenian kondan
ini
adalah ucapan kebahagiaan terhadap tamu yang berkunjung dan bermalam di daerahnya. kesenian ini
dilakukan dengan cara menari dan berbalas pantun.
</p>
<p>
Kinyah Uut Danum, adalah tarian perang khas kelompok suku Dayak Uut Danum yang memperlihatkan
kelincahan
dan
kewaspadaan dalam menghadapi musuh. Dewasa ini Kinyah Uut Danum ini banyak diperlihatkan pada
acara
acara
khusus atau sewaktu menyambut tamu yang berkunjung. Tarian ini sangat susah dipelajari karena
selain
menggunakan Ahpang (Mandau) yang asli, juga karena gerakannya yang sangat dinamis, sehingga
orang
yang
fisiknya kurang prima akan cepat kelelahan.
</p>
<p>
Tari Zapin pada masyarakat Melayu Kalimantan Barat, Zapin merupakan tarian Masyarakat Melayu
Nusantara
diadofsi dari timur tengah yaitu Hadramaut, selanjutnya menyebar ke Riau seterusnya ke Kalbar.
Merupakan
suatu tari pergaulan dalam masyarakat, sebagai media ungkap kebahagiaan dalam pergaulan. Jika ia
menggunakan properti Tembung maka disebut Zapin tembung, jika menggunakan kipas maka di sebut
Zapin
Kipas.
</p>
<p>
Tari Menoreh Getah adalah tarian yang menggambarkan kegiatan sehari-hari masyarakat pedesaan
Kalimantan
Barat. Tari Mandau, merupakan wujud semangat juang para pemuda suku dayak untuk membela hukum
dan
martabatnya.
</p>
<br>
<h2 id="musik">Alat Musik Tradisional</h2>
<ul>
<li>Gong/Agukng, Kollatung (Uut Danum) merupakan alat musik pukul yang terbuat dari kuningan,
merupakan
alat musik yang multifungsi baik sebagai maskawin, sebagai dudukan simbol semangat dalam
pernikahan.
maupun sebagai bahan pembayaran dalam hukum adat.
</li>
<li>Gambus, alat musik petik khas suku Melayu yang mendapat pengaruh dari arab.
</li>
<li>Tawaq (sejenis Kempul) merupakan alat musik untuk mengiringi tarian tradisional masyarakat
Dayak
secara umum. Bahasa Dayak Uut Danum menyebutnya Kotavak.
</li>
<li>Hadrah, alat musik khas suku Melayu yang berbentuk seperti gendang tapi memiliki
gerincing-gerincing
di sekelilingnya.
</li>
<li>Sapek merupakan alat musik petik tradisional dari Kapuas hulu dikalangan masyarakat Dayak
Kayaan
Mendalam kabupaten Kapuas hulu. Pada masyarakat Uut Danum menyebutnya Konyahpik (bentuknya)
agak
berbeda sedikit dengan Sapek.
</li>
<li>Balikan/Kurating merupakan alat musik petik sejenis Sapek, berasal dari Kapuas Hulu pada
masyarakat
Dayak Ibanik, Dayak Banuaka".
</li>
<li>
Kangkuang merupakan alat musik pukul yang terbuat dari kayu dan berukir, terdapat pada
masyarakat
Dayak Banuaka Kapuas Hulu.
</li>
<li>
Keledik/Kedire merupakan alat musik terbuat dari labu dan bilah bambu di mainkan dengan cara
ditiup
dan dihisap, terdapat di daerah Kapuas Hulu. Pada suku Dayak Uut Danum di sebut Korondek.
Entebong
merupakan alat musik Pukul sejenis Gendang yang banyak terdapat di kelompok Dayak Mualang di
daerah
Kabupaten Sekadau.
</li>
<li>
Rebab, yaitu alat musik gesek, terdapat pada suku Melayu penggunaannya mirip dengan biola.
</li>
<li>
Kohotong, yaitu alat musik tiup, terbuat dari dahan semacam pelepah tanaman liar di hutan
seperti
pohon enau.
</li>
<li>
Sollokanong (beberapa suku Dayak lain menyebutnya Klenang) terbuat dari kuningan, bentuknya
lebih
kecil dari gong, penggunaannya harus satu set.
</li>
<li>
Terah Umat (pada Dayak Uut Danum) merupakan alat musik ketuk seperti pada gamelan Jawa. Alat
ini
terbuat dari besi (umat) maka di sebut Terah Umat.
</li>
</ul>
<br>
<h2 id="senjata">Senjata Tradisional</h2>
<ul>
<li>
Mandau (Ahpang: sebutan Uut Danum) adalah sejenis Pedang yang memiliki keunikan tersendiri,
dengan
ukiran dan kekhasannya. Pada suku Dayak Uut Danum hulunya terbuat dari tanduk rusa yang
diukir,
sementara besi bahan Ahpang (Mandau) terbuat dari besi yang ditambang sendiri dan terdiri
dari
dua
jenis, yaitu Bahtuk Nyan yang terkenal keras dan tajam sehingga lalat hinggap pun bisa putus
tetapi
mudah patah dan Umat Motihke yang terkenal lentur, beracun dan tidak berkarat.
</li>
<li>Tumbak</li>
<li>Keris Melayu</li>
<li>Sumpit (Sohpot: sebutan Uut Danum)</li>
<li>Senapang Lantak ( senjata Tradisional )</li>
<li>Duhung (Uut Danum)</li>
<li>Isou Bacou atau Parang yang kedua sisinya tajam (Uut Danum)</li>
<li>Lunjuk atau sejenis tumbak untuk berburu (Uut Danum)</li>
<li>Mandau ( sejenis pedang namun berukir pada besi dan ganggang, bilah besi berbentuk cembung
sebelah.
</li>
<li>Nyabor ( sejenis mandau namun melentik ke atas bilah besinya memiliki ketajaman yang sama )
</li>
</ul>
<br>
<h2 id="sastra">Sastra lisan</h2>
<p style="text-align: center; margin-top: -15px; margin-bottom: 30px;">Beberapa sastra lisan yang
ada di
daerah ini antara lain :
</p>
<ul>
<li>Bekana merupakan cerita orang tua masa lalu yang menceritakan dunia khayangan atau Orang
Menua
Pangau (dewa-dewi) dalam mitologi Dayak Ibanik: Iban, Mualang, Kantuk, Desa dan lain-lain.
</li>
<li>
Bejandeh merupakan sejenis bekana tetapi objek ceritanya beda.
</li>
<li>
Nyangahatn, yaitu doa tua pada masyarakat Dayak Kanayatn.
</li>
<li>
Pantun Jepin yaitu syair-syair atau gurindam yang dilantunkan pada acara adat suku Melayu.
</li>
</ul>
<p>Pada suku Dayak Uut Danum, sastra lisannya terdiri dari Kollimoi (zaman kedua),
Tahtum (zaman ketiga),
Parung, Kandan dan Kendau. Pada zaman tertua atau pertama adalah kejadian alam semesta dan umat
manusia.
Pada sastra lisan zaman kedua ini adalah tentang kehidupan manusia Uut Danum di langit. Pada
zaman
ketiga adalah tentang cerita kepahlawanan dan pengayauan suku dayak Uut Danum ketika sudah
berada di
bumi, misalnya bagaimana mereka mengayau sepanjang sungai Kapuas sampai penduduknya tidak
tersisa
sehingga dinamakan Kopuas Buhang (Kapuas yang kosong atau penghuninya habis) lalu mereka mencari
sasaran
ke bagian lain pulau Kalimantan yaitu ke arah kalimantan Tengah dan Timur dan membawa nama-nama
daerah
di Kalimantan Barat, sehingga itulah mengapa di Kalimantan Tengah juga ada sungai bernama sungai
Kapuas
dan Sungai Melawi.
</p>
<p>
Tahtum ini jika dilantunkan sesuai aslinya bisa mencapai belasan malam untuk satu episode,
sementara
Tahtum ini terdiri dari ratusan episode. Parung adalahsastra lisan sewaktu ada pesta adat atau
perkawinan. Kandan adalah bahasa bersastra paling tinggi dikalangan kelompok suku Uut Danum
(Dohoi,
Soravai, Pangin, Siang, Murung dan lain-lain)yang biasa digunakan untuk menceritakan Kolimoi,
Parung,
Mohpash dan lain-lain. Orang yang mempelajari bahasa Kandan ini harus membayar kepada gurunya.
Sekarang
bahasa ini sudah hampir punah dan hanya dikuasai oleh orang-orang tua. Sementara Kendau adalah
bahasa
sastra untuk mengolok-olok atau bergurau.
</p>
<br>
<h2 id="tenun">Tenun</h2>
<p style="text-align: center; margin-top: -15px; margin-bottom: 30px;">Kain Tenun Tradisional
terdapat
di
beberapa daerah, di
antaranya :
</p>
<ul>
<li>Tenun Daerah Songket Sambas, kain tenun tersebut biasa disebut Kain Lunggi atau Kain benang
Emas, di
sebut demikian karena salah satu bahan yang di pergunakan adalah benang emas yang berwarna
kuning
emas. Kain tenun ini telah ada sejak kesultanan Sambas pada tahun 1675 yang mmeerintah
kesultanan
Sambas selama 10 tahun
</li>
<li>
Tenun Belitang daerah Kumpang Ilong Kabupaten Sekadau ( Dayak Mualang / Ibanik )
</li>
<li>Tenun Ensaid Panjang Kabupaten Sintang ( Dayak Desa / Ibanik)</li>
<li>Tenun Kapuas Hulu ( Iban dan Kantuk / Kelompok Ibanik )</li>
<li>Sulam Kalengkang khas suku Melayu Kabupaten Sanggau,</li>
</ul>
<br>
<h2 id="anyam">Kerajinan Anyam Manik</h2>
<p style="text-align: center;">Anyam Manik kelompok Dayak Banuaka Group: anyam baju adat Dayak
Taman,
tamambaloh, peniung, Kalis ( baju
Manik dan baju Burik)
</p>
<br>
<h2 id="rotan">Kerajinan Anyam Rotan atau bambu</h2>
<p style="text-align: center;">Bakul, keranjang, Kelayak, Tudung Saji, ambinan, dsb. tersebar di
Pontianak,
Landak, Sanggau, Sekadau,
Sintang, Kapuas hulu.
</p>
<br>
<h2 id="tangan">Kerajinan Tangan</h2>
<p style="text-align: center; margin-top: -15px; margin-bottom: 30px;">Berbagai macam kerajinan
tangan
dapat
diperoleh dari daerah ini, misalnya :
</p>
<ul>
<li>Tikar Lampit, di Pontianak dan daerah Bengkayang, Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang.</li>
<li>
Bidai ( bahasa Ibanik ) atau bide (bahasa Kanayatn Group) tersebar hampir disebagian suku
Dayak
baik
di Indonesia maupun di Serawak, bidai merupakan tikar tradisional Dayak, terdapat di
Bengkayang,
Sekadau, Kapuas Hulu, Serawak ( pada komunitas Dayak Iban)
</li>
<li>Ukir-ukiran, perisai, mandau dan lain-lain terdapat di Pontianak dan Kapuas Hulu.</li>
<li>Kacang Uwoi (tikar rotan bermotif) khas suku Dayak Uut Danum.</li>
<li>Takui Darok (caping lebar bermotif) khas suku Dayak Uut Danum.</li>
</ul>
<br>
<h2 id="kue">Kue Tradisional</h2>
<p style="text-align: center; margin-top: -15px; margin-bottom: 30px;">Kue-kue tradisional banyak
dijumpai
di tempat ini, misalnya :
</p>
<ul>
<li>Lemang, terbuat dari pulut di masukan ke dalam bambu, merupakan makanan tradisional
masyarakat
masa
lampau yang kini masih dilestarikan.
</li>
<li>Lemper, terbuat dari pulut yang di isi daging/kacang terdapat didaerah Purun merupakan
makanan
tradisional
</li>
<li>Lepat, terbuat dari tepung yang di dalamnya di masukan pisang.</li>
<li>
Jimut, kue tradisional pada masyarakat Dayak Mualang daerah Belitang Kabupaten Sekadau yang
terbuat
dari tepung yang dibentuk bulatan sebesar bola pimpong.
</li>
<li>Lulun, sejenis lepat, yamg isimya gula merah, terdapat di daerah Belitang kab sekadau</li>
<li>Lempok, Dodol yang dibuat dari Durian</li>
<li>Tumpi', terdapat pada masyarakat Dayak kanayatn, yang terbuat dari bahan tepung.</li>
<li>Tehpung, kue tradisional pada dayak Uut Danum, terbuat dari beras pulut yang ditumbuk halus
dan
digoreng. Kue ini biasanya di buat pada acara adat, bentuknya ada yang seperti perahu, gong
dan
lain-lain.
</li>
<li>kue lapis berbagai macam serta kue keranjang dari tionghoa</li>
</ul>
<br>
<h2 id="masakan">Masakan dan makanan Tradisional</h2>
<p style="text-align: center; margin-top: -15px; margin-bottom: 30px;">Kuliner yang bisa kita
dapatkan
dari
daerah ini adalah :
</p>
<ul>
<li>Masakan Asam Pedas di daerah Pontianak</li>
<li>Masakan Bubur Pedas di daerah Sambas</li>
<li>Kerupok basah, merupakan makanan khas Kapuas Hulu</li>
<li>Ale-ale, merupakan makanan khas Ketapang</li>
<li>Pansoh, yaitu masakan daging di dalam bambu pada masyarakat Dayak.</li>
<li>Mie Tiaw/kwetiau, merupakan masakan khas Tionghoa Pontianak yang terdapat di kota Pontianak
</li>
<li>Nasi Ayam dan Mie Pangsit, merupakan masakan khas penduduk Tionghoa Singkawang dan
sekitarnya
</li>
<li>Sungkui, merupakan masakan khas Melayu Kabupaten Sanggau.</li>
<li>Lek Tau Suan, Makanan Tionghoa Khas Pontianak</li>
</ul>
</div>
<!-- image -->
<div class="container" id="wisataalam">
<h1>WISATA ALAM KALIMANTAN BARAT</h1>
<h3 style="text-align: center; margin-top: -15px;"> Sumber Artikel By :
<a href="https://kalbar.inews.id/berita/10-tempat-wisata-alam-di-kalimantan-barat">https://kalbar.inews.id
</a>
</h3>
<hr>
<button onclick="toggleElement()">Click</button>
<div id="gambar">
<img src="image/tanjung badau.jpg" alt="" id="tanjungbadau">
<h4>Tanjung Bajau </h4>
<p>Ini merupakan salah satu wisata populer dan wajib untuk dikunjungi. Lokasinya
berada di Kota Singkawang. Tanjung Bajau menghadirkan konsep wisata alam segar dan alami
dengan
gabungan antara pantai dan pegunungan.
</p>
<img src="image/riam madi.jpg" alt="" style="margin-top: 20px;" id="riammadi">
<h4>Riam Madi</h4>
<p>
Tempat ini merupakan sungai yang berlokasi di Kabupaten Bengkayang. Para wisatawan menjuluki
tempat ini adalah sumber mata air yang sangat penting untuk masyarakat. Untuk harga masuk
pun
cukup murah dan tidak memakan biaya.
</p>
<img src="image/pasir panjang.jpg" alt="" style="margin-top: 20px;" id="pasirpanjang">
<h4>Pasir Panjang Singkawang</h4>
<p>
Kota Wisata merupakan julukan bagi kota Singkawang. Tempat ini berada di daerah Singkawang,
satu
di antaranya yaitu Pasir Panjang Singkawang. Tempat wisata ini memang sudah banyak dikenal
di
Kalimantan Barat. Banyak juga turis-turis yang berdatangan di pantai ini. Sejak dulu hingga
sekarang tempat ini sangat dinikmati oleh pengunjung karena letaknya strategis dan memiliki
daya
tarik tersendiri.
</p>
<img src="image/lemukutan.jpg" alt="" style="margin-top: 20px;" id="lemukutan">
<h4>Lemukutan Bengkayang</h4>
<p>
Pulau ini sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun luar Kalimantan. Pulau ini tidak
jauh dari Kota Singkawang yakni sekitar 1 sampai 2 jam jarak yang harus ditempuh melalui
perahu
motor.
</p>
<img src="image/temajuk-Sambas.jpg" alt="" style="margin-top: 20px;" id="temajuksambas">
<h4>Temajuk Sambas</h4>
<p>
Nama Temajuk mungkin masih sangat asing bagi traveler di Indonesia. Desa kecil yang terletak
persis di ekor pulau Kalimantan ini mempunyai destinasi wisata kelas dunia. Bagi masyarakat
di
sana, nama Temajuk seolah-olah menjadi magnet wisata. Primadona andalan Kabupaten Sambas
ini,
bahkan tidak pernah putus kunjungan wisatawan baik lokal maupun negara tetangga Malaysia.
</p>
<img src="image/danau sentarum.jpg" alt="" style="margin-top: 20px;" id="danausentarum">
<h4>Danau Sentarum</h4>
<p>
Taman Nasional Danau sentarung di Kabupaten Kapuas Hulu ini sudah tidak diragukan lagi
keindahannya. Danau ini memiliki luas sekitar 132.000 hektare. Danau ini juga dapat
menampung
aliran banjir di seluruh Kalimantan Barat.
</p>
<img src="image/bukit kelam.jpg" alt="" style="margin-top: 20px;" id="bukitkelam">
<h4>Bukit Kelam</h4>
<p>
Bukit Kelam lebih tepatnya berada di Kecamatan Kelam Permai 20 km dari Kota Sintang, atau
sekitar 390 km dari Pontianak. Tempat ini terletak di antara 2 sungai besar yaitu Sungai
Melawi
dan Sungai Kapuas. Bukit Kelam ini merupakan batu yang terbentang dari timur ke barat.
</p>
<img src="image/hutan mangrove.jpg" alt="" style="margin-top: 20px;" id="hutanmangrove">
<h4>Hutan Mangrove</h4>
<p>
Waktu kita duduk di bangku sekolah, pasti pernah mendengar hutan tanaman yang mampu mencegah
erosi dan abrasi pantai. Hutan Mangrove memiliki akar efisien dalam melindungi di wilayah
pesisir, sehingga dapat menjadi pelindung pengikisan tanah akibat air. Di Sumpawa terdapat
tanaman konservasi mangrove yaitu Mempawah Mangrove Park.
</p>
<img src="image/tamanalunalunkotapontianak.jpg" alt="" style="margin-top: 20px;" id="tamanalun">
<h4>Taman Alun-alun Kota Pontianak</h4>
<p>
Nama Alun Kapuas merupakan satu di antara lokasi wisata taman di kota Pontianak. Letaknya
sudah
berada di tempat strategis yaitu di tengah Kota Pontianak. Menjadikan taman ini ramai
dikunjungi
oleh masyarakat setempat. Jam buka tempat ini mulai dari pukul 06.00 WIB - 20.00 WIB
</p>
<img src="image/riam bedawan.jpg" alt="" style="margin-top: 20px;" id="riambedawan">
<h4>Riam Bedawan</h4>
<p>
Tempat ini berada di Desa Dange Aji Kecamatan Air Besar, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.
Air
Terjun Bedawat biasa juga disebut dengan air terjun Bedawat ini memiliki 7 tingkatan yang
begitu
indah. Suasana hutan tropis dan udara sejuk akan membuat nyaman wisatawan saat berada di
sana.
</p>
</div>
</div>
<!-- end image -->
</div>
<!-- end budaya -->
</article>
<!-- biodata -->
<aside>
<div class="about" id="about">
<h2>About Me
</h2>
<img src="image/profil.jpeg" class="profile" alt="">
<ul>
<li> <span> NAMA</span> : THOMAS ALBERTO</li>
<li> <span> USERNAME </span> : thomasalberto21</li>
<li> <span> ASAL</span> : KALIMANTAN BARAT</li>
<li> <span> UMUR</span> : 18 TAHUN</li>
<li> <span> TANGGAL LAHIR </span> : 17 APRIL 2004</li>
<li> <span> JENIS KELAMIN </span> : LAKI-LAKI</li>
</ul>
</div>
</aside>
<!-- end biodata -->
</main>
<!-- end content -->
<!-- footer -->
<footer>
<div class="footer" id="social">
<a href="https://instagram.com/thomasalberto21?igshid=YmMyMTA2M2Y="><img src="image/instagram.png" alt=""
style="width: 16px;"> | </a>
Follow My Instagram
<h6 style="margin-top: -44px; font-weight:lighter">Click Icon Instagram</h6>
</div>
</footer>
<!-- end footer -->
<script src="script.js"></script>
</body>
</html>